Ground Breaking TOD Summarecon Stasiun Bekasi Eksisting
28-07-2026 / 5 ViewsBekasi – Pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Bekasi menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong terciptanya sistem transportasi yang terintegrasi dengan permukiman dan tempat aktivitas masyarakat, yang mendukung pertumbuhan ekonomi serta terwujudnya tata ruang perkotaan yang berkelanjutan. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono, Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe, serta Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk. Adrianto P. Adhi.
Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P. Adhi, menyampaikan bahwa Summarecon telah berperan dalam mendukung penyelesaian berbagai persoalan mobilitas masyarakat di Kota Bekasi. Salah satu bentuk kontribusi tersebut diwujudkan melalui pembangunan Flyover Summarecon Bekasi pada tahun 2010, yang selain menjadi akses utama menuju kawasan Summarecon Bekasi juga berhasil menghilangkan perlintasan sebidang sehingga meningkatkan keselamatan dan kelancaran lalu lintas
Lebih lanjut, pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi menjadi langkah awal pengembangan kawasan TOD Bekasi yang nantinya akan menghubungkan kawasan Bekasi Utara dengan Stasiun Bekasi serta terintegrasi dengan layanan LRT. Kehadiran kawasan ini diharapkan memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memilih moda transportasi umum yang nyaman, efisien, dan terhubung.
Konsep TOD yang dikembangkan Summarecon mengusung delapan prinsip pembangunan, di antaranya menciptakan kawasan yang nyaman untuk bekerja, mendukung mobilitas dengan berjalan kaki dan bersepeda, mengutamakan transportasi publik, menghadirkan kawasan mixed-use, meningkatkan kepadatan secara terencana, membangun kawasan yang kompak, serta mendorong pergeseran penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi massal.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa pembangunan TOD Bekasi merupakan simbol langkah maju dalam mewujudkan tata ruang yang lebih baik sekaligus memperkuat sistem transportasi dan pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, kawasan TOD diharapkan tidak hanya menjadi simpul pergerakan masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai kawasan yang produktif secara ekonomi serta layak huni. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pembangunan yang sejalan dengan visi pembangunan daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perhubungan menyampaikan bahwa dengan jumlah penduduk Kota Bekasi yang kini telah mencapai sekitar 2,7 juta jiwa, pembangunan infrastruktur perkeretaapian menjadi langkah yang sangat strategis. Pengembangan TOD diyakini akan memberikan dampak positif terhadap mobilitas masyarakat sekaligus mendorong peralihan penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi umum massal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjelaskan bahwa konsep TOD menjadi semakin penting di tengah laju urbanisasi yang terus meningkat. Saat ini sekitar 60–65 persen penduduk tinggal di kawasan perkotaan dan pada masa mendatang diperkirakan mencapai 70 persen, sehingga kota-kota besar akan menghadapi tantangan berupa meningkatnya jumlah penduduk, keterbatasan ruang, penurunan kualitas hidup, hingga meningkatnya polusi udara dan emisi karbon.
AHY menjelaskan bahwa implementasi TOD dibangun melalui lima elemen utama, yaitu transportasi, mobilitas aktif, pengembangan ekonomi, tata guna lahan, lingkungan, dan aspek sosial. Penerapan TOD memberikan berbagai manfaat, antara lain mengurangi emisi karbon dan polusi udara, meningkatkan nilai properti dan investasi, serta mempermudah mobilitas masyarakat melalui integrasi antarmoda transportasi.
Menurut AHY, Indonesia telah memiliki sejumlah contoh implementasi TOD seperti Dukuh Atas, Blok M, Lebak Bulus, dan kawasan Parahyangan. Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan dalam penerapannya, mulai dari sinkronisasi tata ruang, pengadaan lahan, pembiayaan infrastruktur, kenaikan harga lahan yang berpotensi memicu gentrifikasi, hingga perubahan perilaku masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi publik.
Untuk itu, AHY menekankan bahwa keberhasilan pembangunan TOD hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, meliputi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media. Menurutnya, pengembangan TOD Bekasi diharapkan dapat menjadi model pengembangan kawasan berorientasi transit bagi kota-kota lain di Indonesia, dengan proses pembangunan dan pengawasannya dilaksanakan secara kolaboratif guna mewujudkan sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan.
Humas BTP Jakarta

6 Comment
Jhone Michale
Nov 09 2021
replyLorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod temincidid labore et dolore magna aliqua. Ut enim miniming veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
jhon doe
Nov 09 2021
replyLorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiustempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veninostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip
Jenifer Hearly
Nov 09 2021
replyLorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod temincidid labore et dolore magna aliqua. Ut enim miniming veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.